
Bersedih karena ditinggal orang yang kita cintai adalah sesuatu yang alamiah. Demikian pula yang dirasakan oleh junjungan kita, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam. Suatu hari beliau mengalami kesedihan yang luar biasa. Beliau mendapati pamannya, Abu Thalib, terbaring kaku di pembaringan. Detik-detik sakaratul maut terasa akan menghampirinya.
Bagi Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, Abu Thalib seperti ayah sendiri yang selalu merawat dan melindungi beliau dari berbagai ancaman, marabahaya, dan gangguan orang-orang yang mengusik dakwah beliau. Namun, maut tidak akan menoleransi waktu ‘berkelana’ manusia di muka bumi. Jika waktu sudah habis, berarti ia harus meninggalkan dunia dan mempertanggungjawabkan amalnya.
Mengetahui Abu Thalib berada di ambang pintu kematian, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, berusaha menolongnya. Ya, memberinya pertolongan, sebab sang paman masih enggan mengikuti agama keponakannya itu. Abu Thalib masih mengikuti ajaran jahiliah.
Menjelang Abu Thalib wafat, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, datang menghampiri, berharap sang paman mengucapkan kalimat tauhid. Beliau menuntun dan membimbing Abu Thalib dengan penuh kasih sayang agar mau mengucapkan kalimat syahadat. “Wahai Pamanku. katakanlah laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah.”
Namun, lagi-lagi Abu Thalib enggan mengucapkannya karena pengaruh ajakan kawan-kawannya.
Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali, ‘Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”
Abu Jahal sudah bagaikan setan karena menghalangi Abu Thalib untuk tidak mengucap kalimat tauhid.
Bujukan kawan-kawannya agar tetap mengikuti agama nenek moyangnya selalu menghunjam dalam benak. la tidak lagi peduli nasihat keponakannya untuk mengikuti ajaran suci, Islam. Akhirnya, saat wafat Abu Thalib memilih agama jahiliah. Naudzubillah. []
Sumber: jalansirah

0 Response to "Setan Berwujud Manusia Di Penghujung Hidup Abu Thalib"
Posting Komentar